Bisri Mustofa: ketekunan yang berbuah prestasi

Bagi Bisri, agaknya pekerjaan itu keluarannya bukan hanya uang (gaji), namun juga berpotensi mendatangkan pahala. Maka jika ada usaha pada pekerjaan, yang ternyata tidak menghasilkan uang, bisa jadi akan menghasilkan sesuatu dalam bentuk lain, misalnya: pahala atau investasi sosial.

###

Namanya Bisri Mustofa, karyawan Fakultas Teknik (FT) UGM, yang lahir di Bantul pada 28 Juli 38 tahun yang lalu, tinggal di daerah Wonocatur, Banguntapan Bantul. Kadang dipanggil dengan awalan Mas, Kang, atau bagi mahasiswa sebagai tanda rasa hormat akan memanggilnya dengan awalan Pak. Kami, kawan-kawannya lebih akrab dengan Kang. “Kang Bisri”, begitu kami memanggilnya. Tahun ini, 2018, Kang Bisri dikukuhkan sebagai pegawai tetap UGM, dengan pangkat Pengatur Muda golongan II/a. Sebuah perjalanan panjang, tentunya dengan berbagai dinamika yang dilalui mulai dari awal dengan SK dekan, hingga pegawai tetap. Status pegawai tetap UGM merupakan status tertinggi bagi pegawai non PNS.

###

Bisri kecil mengenyam pendidikan SD di sekolah dekat rumahnya. Jarak antaa rumah dan sekolah ditempuh dengan jalan kaki, bersama teman-temannya. Sementara itu, saat SMP, karena jarak yang cukup jauh, ditempuhnya dengan naik sepeda. Ketika SMA, kembali dijalaninya setiap hari dengan jalan kaki.

Bisri kecil, sejak SD memiliki minat pada dunia elektronik. Dia tidak belajar formal, melainkan dari otodidak, melihat tetangga atau siapapun yang mahir elektronika. Selepas SMP, dia melanjutkan di SMA, bukan di sekolah kejuruan bidang elektronik. Namun demikian, kegemarannya pada elektronika telah mengasah kemampuannya sehingga dia memiliki keahlian, seperti lulusan sekolah di bidang kejuruan.

Dengan kemampuannya pada bidang elektronik, selepas SMA Bisri memiliki kegiatan rutin di bengkel elektronik dekat rumahnya. Di sinilah sehari-hari hobinya terkait elektronika tersalurkan, mulai dari reparasi televisi, radio dan lainnya. Termasuk berbagai model sound system, bahkan membuat kotak/box khusus barang elektronik.

Hingga akhirnya informasi tentang lowongan di FT UGM itu sampai kepadanya, melalui tetangganya yang bekerja di FT UGM. Pada awalnya Bisri enggan mendaftar, selain karena sudah punya pekerjaan, juga karena lowongan kerja itu bukan terkait elektronik, melainkan lowongan tenaga kebersihan. Namun, bujukan tetangganya membuat hati Bisri luluh, kemudian melengkapi berkas pendaftaran. Setelah mengikuti proses pendaftaran, dari 30 pendaftar, ada 2 yang diterima, salah satunya Bisri. Bisri mulai bekerja di Fakultas Teknik UGM pada 1 Oktober 2007, sebagai petugas kebersihan.

Jarak rumah yang kurang lebih 10 km dari Fakultas Teknik ditempuh setiap hari dengan naik motor kesayangannya, tepat waktu. Bekerja pada bidang pekerjaan yang berbeda dari pekerjaan sebelumnya, tidak membuatnya kecewa. Pekerjaan dilakukan dengan sepenuh hati dan dedikasi, serta memenuhi jam masuk kerja secara tertib. Berbagai dinamika Bisri alami selama menjadi petugas kebersihan.

Pada masa awal pengabdiannya ini, Bisri sempat sakit dan opname. Pada saat opname ini, Bisri mengalami proses reflektif. “Ketika saya opname di RS, saya lihat petugas cleaning service, dengan gaji yang terbatas tetap kerja semangat. Saya merasa lebih beruntung bekerja di FT, dan mestinya lebih bisa bersemangat”. Bisri juga mengungkapkan, melihat pekerja bangunan yang masuk kategori kerja yang memforsir fisik, namun juga tetap semangat. Hal ini turut meningkatkan rasa syukurnya bekerja di FT UGM.

###

Hingga akhirnya, 3 tahun kemudian, kesempatan itu datang di akhir 2010. Tawaran untuk pindah “ke dalam” diberikan padanya. Pindah “ke dalam”, merupakan sebutan untuk yang pindah ruang kerja ke dalam gedung kantor pusat fakultas teknik. Bisri ditawari kerja di bagian sound system. Seolah menemukan kembali hobinya yang lama ditinggalkan, dia menyanggupi tawaran itu.

Operator sound system serta teknisi listrik merupakan tanggungjawab periode kedua dari proses pengabdiannya di FT UGM. Ruang kerjanya di Kantor Pusat Fakultas Teknik (KPFT) UGM, tepatnya di lantai dua, di samping ruang sidang utama. Di ruang kerja berukuran 4×2.5 meter itu terdapat berbagai alat terkait sound system: amplifier, speaker, mixer, komputer, serta alat untuk reparasi kelistrikan.

Dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari, Bisri menerapkan kerja tuntas. Wilayah kerjanya yang meliputi semua wilayah FT yang ada di bawah kendali KPFT membuat dia harus bersabar dan telaten jika ada kerusakan listrik di berbagai titik. Kerjasama yang baik dengan parner kerja serta bagian lain, SKK misalnya, yang sering melaporkan titik-titik listrik yang rusak, menjadi salah satu kunci sukses kerjanya.
###

Sejak masih bekerja sebagai petugas kebersihan, Bisri bekerja dengan ulet. Bahkan, kalau hanya sakit ringan, tidak begitu berpengaruh pada semangat kerjanya dan dia tetap berangkat kerja. Semangat ini dipengaruhi oleh contoh yang diperlihatkan Ibunya. “Ibu itu, meski sakit tetap bergerak, tetap bekerja. Beliau bekerja sejak saya kecil”, Bisri mengisahkan tentang Ibunya, yang begitu berpengaruh pada etos kerjanya selama ini.

Bisri mengutarakan bahwa rekan kerjanya juga turut mempengaruhi etos kerjanya. “Pak Eko (Eko Hendrawan), saya lihat orangnya ulet, rajin dan tidak kendor semangatnya. Bahkan ketika teman-temannya ada yang sudah diangkat jadi pegawai tetap lebih dahulu, tidak mengurangi semangatnya”, demikian Bisri bercerita tetang sosok Pak Eko, salah satu rekan yang dia anggap sebagai contoh dalam dedikasi kerja.

Untuk meningkatkan kemampuan, Bisri tidak segan belajar pada siapa saja. Sudah menjadi kebiasaan Bisri bertandang ke laboratorium yang ada di lingkungan FT UGM untuk bertemu laborannya, serta melihat alat-alat yang ada, belajar fungsinya dan bagaimana menggunakannya. Kebiasaan bertandang ke laboratorium inilah yang memunculkan ide-ide segar Bisri.

Pekerjaan dilakukannya dengan baik dan penuh kreativitas. Akhirnya, kreativitas ini dilihat oleh teman-temannya sebagai sebuah peluang. Mereka mendorong Bisri untuk menuliskan inovasi, diikutkan pada lomba inovasi di tingkat fakultas. Bisri akhirnya mengajukan inovasi terkait optimalisasi pompa air. Inovasi ini berisi ide mengefisienkan listrik yang digunakan untuk menggerakkan pompa air, serta agar pompa dapat hidup otomatis pada jam-jam tertentu. Berkat inovasi ini, Bisri menang.

Kemenangan ini mengantarkan Bisri maju pada perlombaan inovasi di tingkat universitas. Tidak mengecewakan. Sebagai wakil dari FT, Bisri dinobatkan sebagai peringkat 2. Anugerah ini disampaikan pada malam penganugerahan Dies UGM 2017 oleh rektor. Bersama dosen, mahasiswa, kaprodi dan staf tendik berprestasi dari fakultas dan kategori lainnya, Bisri naik ke panggung untuk menerima penghargaan.

###

Pekerjaan utama yang diamanahkan padanya sesuai dengan minat pribadinya pada bidang elektronika, dengan berbagai keterampilan yang dikuasainya: reparasi barang elektronik, kelistrikan, operator soundsystem, serta keahlian pembuatan box hardcase. Ketekunan menjalani pekerjaan yang didukung hobi inilah, yang akhirnya mengantarkannya meraih prestasi dan memperoleh status pegawai tetap UGM. Tentunya, capaian ini sangat membekas pada diri Bisri. Keberaniannya mengambil risiko meninggalkan pekerjaan yang lama, tetap tekun dalam bekerja, ternyata berbuah manis dengan prestasi serta dapat dipertemukan dengan hobinya lagi.

Sebagai manusia biasa, terkadang Bisri juga mengalami tekanan. “Ketika banyak pekerjaan dalam satu hari. Jadwal padat, ada listrik yang rusak, dan harus menjaga sound”. Tumpukan pekerjaan ini dikerjakan berdua dengan partner satu ruangnya. Namun, selain itu, Bisri memaknai pekerjaan ini sebagai ibadah. “Ya, saya menganggapnya sebagi bagian dari ibadah saya, Mas”. Bagi Bisri, agaknya pekerjaan itu keluarannya bukan hanya uang (gaji), namun juga memberi potensi mendatangkan pahala. Maka jika ada usaha pada pekerjaan, yang ternyata tidak menghasilkan uang, bisa jadi akan menghasilkan sesuatu dalam bentuk lain, misalnya: pahala atau investasi sosial. Dengan memaknai pekerjaan sebagai bagian dari ibadah, maka tumpukan pekerjaan justru dapat melatih kesabaran, keuletan, keikhlasan yang akan memberikan pahala. “Jika ada permasalahan yang belum pernah ditemukan sebelumnya, ya dicoba dulu”, demikian tips Bisri dalam menghadapi hal baru pada pekerjaannya.

Eko Hendrawan, staf TI FT UGM memberikan pendapatnya tentang Bisri, “Dia pekerja keras, loyal, dan serius dalam berinovasi untuk kepentingan tempat kerja”. Sementara itu, Ispurwanto, rekan kerja Bisri menyampaikan, “Saya ikut senang (atas capaian Bisri), bisa lebih tenang dan bisa memacu kinerjanya. (Semoga) bisa berhasil apa yang di cita-citakan mas Bisri. Serta bisa mencapai apa yang diharapkan kedua orang tuanya”.

Atas capaian pegawai tetap ini, apresiasi juga disampaikan oleh rekan kerja lainnya. Selamat kang, selamat mas, semoga sukses, barakah mas, maju terus, serta ucapan serupa lainnya disampaikan oleh kami, teman-temannya ketika kami tahu bahwa Kang Bisri, bersama 2 rekan lainnya memperoleh SK pegawai tetap UGM.

Bisri menyampaikan tips pada rekan-rekan kerjanya: giat dalam bekerja, bertingkah laku yang baik pada sesama dan atasan, tanggungjawab pada beban kerja yang diberikan, pantang menyerah. Selain itu terus belajar juga menjadi hal penting, agar tetap bisa berinovasi. Inovasi inilah yang nantinya akan membedakan satu orang dengan yang lainnya.

Sebagai sesama manusia, kita harus belajar pada siapapun. Setiap manusia memiliki sisi-sisi unik, yang memiliki potensi menjadi pembelajaran bagi orang lain.

###

Diolah dari wawancara dengan Bisri Musthofa, ditulis oleh Purwoko

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *